Banyak yang bilang masa lalu bukan untuk dibuang, tapi
untuk dikenang. Tapi, ada juga sebagian yang bilang, buang jauh-jauh masa
lalumu, yang ada sekarang adalah masa depan. Kira-kira kalian setuju yang mana?
Bicara soal masa lalu, pasti tidak bisa jauh-jauh dari
orang kesayangan, benda kesayangan, dan juga kenangan yang tak terlupakan. Tak terlupakan
karena saking membahagiakan, atau bisa jadi tak terlupakan karena saking
menyedihkan. Pasti semua orang mengalaminya. Hanya saja, banyak dari mereka
yang tak ingin mengungkapkannya. Dan mungkin salah satu dari mereka adalah aku.
Sebenarnya aku hanya bisa menuliskan kenangan-kenangan
masa laluku di buku harianku saja. Tapi, karena ini demi Penamerah, mungkin aku
akan membocorkan sedikit dari masa laluku. Hem, serius banget? Hehe, gak segitunya kali. Masa laluku biasa-biasa saja kok. Gak jauh
bedalah dari masa lalu kalian. :D
Yup, sepertinya memang gak jauh beda dari kalian. Mulai dari masa kecil, remaja, hingga
kepala dua seperti sekarang ini. Seandainya ditelusuri nih, dan diingat
baik-baik, sebenarnya masa-masa di hidupku ini penuh dengan anak kecil. Mungkin
karena aku ini anak tertua dengan satu adik kandung, dan kini 5 adik sepupu, jadi
sudah otomatis kalau hidupku tak jauh-jauh dari mereka, apalagi 3 sepupuku yang
sekarang masih kecil-kecil.
Pas zaman SD dulu, eh malah pas zaman TK ding, ke mana-mana aku selalu bareng
sama adikku. Maklum, cuma selisih dua tahun. Dari nonton TV di rumah tetangga, main
perang-perangan, berenang di sungai, makan tiga kali sehari, hingga tidur pun
kami satu ranjang. Lucunya waktu pas kami tidur, awalnya kami tidur dengan
baik-baik. Tapi, begitu bangun, kami sudah saling menendang, bahkan bertukar
posisi. Hehe. Juga pas berangkat dan pulang sekolah, kami pada waktu itu cuma
punya satu sepeda, dan aku dengan semangat memboncengkan adikku. Aku pun heran,
kok aku kuat ya dulu itu. Padahal itu
sepeda gak ada boncengannya, sepeda federal pula. Alhasil kami berbagi sadel *how so small we are. Wkwkwkwk. Itu
sedikit soal aku dan adikku.
Lain hari, saat aku masih SD juga sih, aku pernah momong
anaknya orang. Bukan saudara, bukan pula tetangga. Jadi, ceritanya waktu itu
aku lagi bantu-bantu Emak di warung. Nah, ada ibu-ibu pembeli dengan mengajak
anaknya yang kira-kira berusia 4 tahun. Usai membayar, entah sebab apa si anak
itu gak mau pulang kecuali aku ikut ke rumahnya. Nah lho. Biar gak nangis, jadilah
aku ikut dia main ke rumahnya. Lucunya, pas pulang ke rumahnya itu, dia terus
menggandeng tangan kananku *so sweet
banget deh ini. Tapi sayang aku gak inget siapa namanya. Dan sekarang seperti
apa ya dia? Huff, jadi kangen. Kayaknya ganteng deh, soalnya dulu dia imut-imut,
<3. Yep, seumur-umur itulah pengalamanku momong anak orang.
Kalau bisa momong anak orang, harus bisa dong momong anak
saudara sendiri. Benar. Sebelum Keisha, Daffa, dan Ipi lahir, dan setelah aku
momong adik kandungku, aku pun berkesempatan momong mbaknya si Ipi. Gak sering
sih, tapi kalau dia datang ke rumah, pasti dia nyari aku. Ngajak main lompat
talilah, masak-masakanlah, atau bola bekel. Seneng deh ngebayanginnya. Main di
halaman rumah yang dipayungi pohon belimbing, kalau haus tinggal manjat terus dapet
deh belimbingnya. Seger bener dah.
Yah, begitulah kira-kira sedikit dari masa laluku. Gak jauh
beda dari kalian kan? Jadi kangen deh sama era ’90-anku dulu.
Oke, karena terburu-buru, mungkin itu dulu yang bisa
kuceritakan. Kesimpulan dari ceritaku ini: berasa tua deh aku. Hehe.
Sekian.
wkwkwkwk.. lucu mpok :p
BalasHapuswkwkwkwk. bangun mpok bangun :))
BalasHapusMasa kecilmu menyenangkan sekali Mpok. Seru ketoke. :))
BalasHapuseheheheh, era kita sama kok mpok. jd psti akrab lah dg maen di sungai, dkk :))
BalasHapus