"Yakinlah bahwa sesuatu yang baik itu bisa datang dari pengalaman yang tidak baik, tapi apabila kamu dapat mengambil pelajaran darinya."

-- Ann Landers--

Senin, 26 Agustus 2013

ini tentang masa lalu atau masa kecil?


Banyak yang bilang masa lalu bukan untuk dibuang, tapi untuk dikenang. Tapi, ada juga sebagian yang bilang, buang jauh-jauh masa lalumu, yang ada sekarang adalah masa depan. Kira-kira kalian setuju yang mana?
Bicara soal masa lalu, pasti tidak bisa jauh-jauh dari orang kesayangan, benda kesayangan, dan juga kenangan yang tak terlupakan. Tak terlupakan karena saking membahagiakan, atau bisa jadi tak terlupakan karena saking menyedihkan. Pasti semua orang mengalaminya. Hanya saja, banyak dari mereka yang tak ingin mengungkapkannya. Dan mungkin salah satu dari mereka adalah aku.
Sebenarnya aku hanya bisa menuliskan kenangan-kenangan masa laluku di buku harianku saja. Tapi, karena ini demi Penamerah, mungkin aku akan membocorkan sedikit dari masa laluku. Hem, serius banget? Hehe, gak segitunya kali. Masa laluku biasa-biasa saja kok. Gak jauh bedalah dari masa lalu kalian. :D
Yup, sepertinya memang gak jauh beda dari kalian. Mulai dari masa kecil, remaja, hingga kepala dua seperti sekarang ini. Seandainya ditelusuri nih, dan diingat baik-baik, sebenarnya masa-masa di hidupku ini penuh dengan anak kecil. Mungkin karena aku ini anak tertua dengan satu adik kandung, dan kini 5 adik sepupu, jadi sudah otomatis kalau hidupku tak jauh-jauh dari mereka, apalagi 3 sepupuku yang sekarang masih kecil-kecil. 
Pas zaman SD dulu, eh malah pas zaman TK ding, ke mana-mana aku selalu bareng sama adikku. Maklum, cuma selisih dua tahun. Dari nonton TV di rumah tetangga, main perang-perangan, berenang di sungai, makan tiga kali sehari, hingga tidur pun kami satu ranjang. Lucunya waktu pas kami tidur, awalnya kami tidur dengan baik-baik. Tapi, begitu bangun, kami sudah saling menendang, bahkan bertukar posisi. Hehe. Juga pas berangkat dan pulang sekolah, kami pada waktu itu cuma punya satu sepeda, dan aku dengan semangat memboncengkan adikku. Aku pun heran, kok aku kuat ya dulu itu. Padahal itu sepeda gak ada boncengannya, sepeda federal pula. Alhasil kami berbagi sadel *how so small we are. Wkwkwkwk. Itu sedikit soal aku dan adikku.
Lain hari, saat aku masih SD juga sih, aku pernah momong anaknya orang. Bukan saudara, bukan pula tetangga. Jadi, ceritanya waktu itu aku lagi bantu-bantu Emak di warung. Nah, ada ibu-ibu pembeli dengan mengajak anaknya yang kira-kira berusia 4 tahun. Usai membayar, entah sebab apa si anak itu gak mau pulang kecuali aku ikut ke rumahnya. Nah lho. Biar gak nangis, jadilah aku ikut dia main ke rumahnya. Lucunya, pas pulang ke rumahnya itu, dia terus menggandeng tangan kananku *so sweet banget deh ini. Tapi sayang aku gak inget siapa namanya. Dan sekarang seperti apa ya dia? Huff, jadi kangen. Kayaknya ganteng deh, soalnya dulu dia imut-imut, <3. Yep, seumur-umur itulah pengalamanku momong anak orang.
Kalau bisa momong anak orang, harus bisa dong momong anak saudara sendiri. Benar. Sebelum Keisha, Daffa, dan Ipi lahir, dan setelah aku momong adik kandungku, aku pun berkesempatan momong mbaknya si Ipi. Gak sering sih, tapi kalau dia datang ke rumah, pasti dia nyari aku. Ngajak main lompat talilah, masak-masakanlah, atau bola bekel. Seneng deh ngebayanginnya. Main di halaman rumah yang dipayungi pohon belimbing, kalau haus tinggal manjat terus dapet deh belimbingnya. Seger bener dah.
Yah, begitulah kira-kira sedikit dari masa laluku. Gak jauh beda dari kalian kan? Jadi kangen deh sama era ’90-anku dulu. 
Oke, karena terburu-buru, mungkin itu dulu yang bisa kuceritakan. Kesimpulan dari ceritaku ini: berasa tua deh aku. Hehe.
Sekian. 

4 komentar:

  1. wkwkwkwk.. lucu mpok :p

    BalasHapus
  2. wkwkwkwk. bangun mpok bangun :))

    BalasHapus
  3. Masa kecilmu menyenangkan sekali Mpok. Seru ketoke. :))

    BalasHapus
  4. eheheheh, era kita sama kok mpok. jd psti akrab lah dg maen di sungai, dkk :))

    BalasHapus