Empat tahun. Ya,
empat tahun aku ada di kantor ini. Selama itu, teman datang dan pergi silih
berganti. Awal aku bekerja di sini, aku cenderung diam. Sangat diam. Bahkan
temanku yang dulu juga kerja di sini mengatakan kalau aku ini sangat pendiam
dan cuek, seperti patung. Aku sadar akan hal itu. Aku menjadi pendiam karena
mungkin di kantor ini tak banyak pegawai wanitanya. Tapi, syukurlah itu tak
berlangsung lama, karena beberapa bulan setelah aku masuk, banyak teman yang
bergabung dengan kantor ini. Editor yang dulu hanyalah aku seorang,
lama-kelamaan bertambah menjadi 2, 3, kemudian 4 orang. Dan semuanya, mayoritas
wanita. Aku senang. Senang karena punya teman untuk diajak ngobrol. Wajar kan
kalau aku lebih memilih wanita sebagai teman ngobrol? Karena menurutku kalau
ngobrol dengan laki-laki pasti tidak bisa seterbuka mungkin menyampaikan isi
hati. Itulah kenapa aku lebih memilih diam, karena dulu teman-teman seruanganku
semuanya berjenis kelamin laki-laki, apalagi kami duduk satu ruangan dengan
bos. Fiuuuh. Mati gaya jadinya.
Ternyata waktu
berjalan dengan cepat dan telah banyak perubahan yang terjadi di kantor ini. Dari
Februari 2010, kini menginjak Februari 2014. Ya. Aku masuk ke kantor ini pada
Februari 2010. Sebenarnya aku tidak merencanakan untuk resign pada bulan yang sama saat aku masuk kerja untuk pertama kalinya di kantor ini. Hanya saja kesempatanku
untuk resign datang bertepatan dengan
usiaku yang keempat di kantor ini. Tak ada kesengajaan sama sekali. Bahkan, sempat
terpikir, apa iya aku harus resign
sekarang? Sepertinya kalau aku resign
sekarang, waktunya tidak tepat. Secara, dalam 2 bulan terakhir sudah ada 3 pegawai yang resign. Teman-teman editor pun satu per
satu mengundurkan diri. Dari yang 4 kini hanya tinggal 2. Lalu, apakah etis
kalau aku juga ikut-ikutan mengundurkan diri? Tapi, apa iya kesempatan yang
datang ini aku abaikan begitu saja? Bukankah di kesempatan ini banyak harapan
yang lebih baik? Huff.
***
Banyak teman yang
berkemas secara bergantian, membuatku semakin sadar bahwa masih ada tempat lain
yang lebih menjanjikan di luar sana. Maka, tergerak dari tindakan teman-temanku
itu, diam-diam aku menyempatkan waktu untuk mencari info lowongan kerja. Dan,
alhamdulillah, ada salah satu teman yang memberiku info tentang lowongan kerja
di sebuah kantor semiswasta yang masih bergerak di bidang yang sama dengan tempat
kerjaku ini. Saat itu juga aku langsung mengunjungi web-nya. Langsung aku kirimkan lamaranku ke email yang tertera. Satu mingguan setelahnya, aku dipanggil, hingga
akhirnya aku diterima untuk bekerja di sana. Gaji yang lebih banyak, jam kerja
yang menurutku normal-normal saja, dan hari Sabtu yang libur. Thank God, I got it! Tapi..., ah entahlah, ah
sudahlah.
Semuanya berjalan sangat cepat. Sampai-sampai aku justru
kebingungan—aku mengalami dilema—apakah kesempatan ini harus aku ambil? Karena seperti yang kutulis di atas, kalau
aku resign maka aku memperbanyak jumlah
pegawai yang resign. Etiskah itu? Ahh!
Belum lagi, kalau aku resign pasti
aku tidak akan melihat tingkah polah dan kelucuan teman-temanku di sini. Aku
tidak bisa mendengar musik yang diputar oleh mas desainer. Aku tidak bisa makan
siang bersama mereka seperti biasanya. Aku tidak akan melihat suasana kerja
yang menyenangkan ini. Dan aku akan kembali seperti dulu, saat pertama kali aku
menginjakkan kaki di dunia kerja, bertemu teman-teman baru.
Huff, begitu
menggalaukan memang kalau kita harus berpisah dengan orang yang telah lama ada
di hidup kita. Tapi, mau bagaimana lagi, memang itu yang harus terjadi. Kadang,
untuk mendapatkan yang lebih baik, kita harus rela meninggalkan apa yang ada. Dan
semoga yang kita tinggalkan itu mendapatkan yang terbaik pula. Amin.
--------
Hey, friends. We are family, right? Aku harap kalian segera mendapatkan yang lebih baik dari ini. Semoga pertemanan kita tetap abadi. :')
--------
Hey, friends. We are family, right? Aku harap kalian segera mendapatkan yang lebih baik dari ini. Semoga pertemanan kita tetap abadi. :')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar