"Yakinlah bahwa sesuatu yang baik itu bisa datang dari pengalaman yang tidak baik, tapi apabila kamu dapat mengambil pelajaran darinya."

-- Ann Landers--

Senin, 27 Januari 2014

To: February

Empat tahun. Ya, empat tahun aku ada di kantor ini. Selama itu, teman datang dan pergi silih berganti. Awal aku bekerja di sini, aku cenderung diam. Sangat diam. Bahkan temanku yang dulu juga kerja di sini mengatakan kalau aku ini sangat pendiam dan cuek, seperti patung. Aku sadar akan hal itu. Aku menjadi pendiam karena mungkin di kantor ini tak banyak pegawai wanitanya. Tapi, syukurlah itu tak berlangsung lama, karena beberapa bulan setelah aku masuk, banyak teman yang bergabung dengan kantor ini. Editor yang dulu hanyalah aku seorang, lama-kelamaan bertambah menjadi 2, 3, kemudian 4 orang. Dan semuanya, mayoritas wanita. Aku senang. Senang karena punya teman untuk diajak ngobrol. Wajar kan kalau aku lebih memilih wanita sebagai teman ngobrol? Karena menurutku kalau ngobrol dengan laki-laki pasti tidak bisa seterbuka mungkin menyampaikan isi hati. Itulah kenapa aku lebih memilih diam, karena dulu teman-teman seruanganku semuanya berjenis kelamin laki-laki, apalagi kami duduk satu ruangan dengan bos. Fiuuuh. Mati gaya jadinya.
Ternyata waktu berjalan dengan cepat dan telah banyak perubahan yang terjadi di kantor ini. Dari Februari 2010, kini menginjak Februari 2014. Ya. Aku masuk ke kantor ini pada Februari 2010. Sebenarnya aku tidak merencanakan untuk resign pada bulan yang sama saat aku masuk kerja untuk pertama kalinya di kantor ini. Hanya saja kesempatanku untuk resign datang bertepatan dengan usiaku yang keempat di kantor ini. Tak ada kesengajaan sama sekali. Bahkan, sempat terpikir, apa iya aku harus resign sekarang? Sepertinya kalau aku resign sekarang, waktunya tidak tepat. Secara, dalam 2 bulan terakhir sudah ada 3 pegawai yang resign. Teman-teman editor pun satu per satu mengundurkan diri. Dari yang 4 kini hanya tinggal 2. Lalu, apakah etis kalau aku juga ikut-ikutan mengundurkan diri? Tapi, apa iya kesempatan yang datang ini aku abaikan begitu saja? Bukankah di kesempatan ini banyak harapan yang lebih baik? Huff.
***
Banyak teman yang berkemas secara bergantian, membuatku semakin sadar bahwa masih ada tempat lain yang lebih menjanjikan di luar sana. Maka, tergerak dari tindakan teman-temanku itu, diam-diam aku menyempatkan waktu untuk mencari info lowongan kerja. Dan, alhamdulillah, ada salah satu teman yang memberiku info tentang lowongan kerja di sebuah kantor semiswasta yang masih bergerak di bidang yang sama dengan tempat kerjaku ini. Saat itu juga aku langsung mengunjungi web-nya. Langsung aku kirimkan lamaranku ke email yang tertera. Satu mingguan setelahnya, aku dipanggil, hingga akhirnya aku diterima untuk bekerja di sana. Gaji yang lebih banyak, jam kerja yang menurutku normal-normal saja, dan hari Sabtu yang libur. Thank God, I got it! Tapi..., ah entahlah, ah sudahlah.
Semuanya berjalan sangat cepat. Sampai-sampai aku justru kebingungan—aku mengalami dilema—apakah kesempatan ini harus aku ambil? Karena seperti yang kutulis di atas, kalau aku resign maka aku memperbanyak jumlah pegawai yang resign. Etiskah itu? Ahh! Belum lagi, kalau aku resign pasti aku tidak akan melihat tingkah polah dan kelucuan teman-temanku di sini. Aku tidak bisa mendengar musik yang diputar oleh mas desainer. Aku tidak bisa makan siang bersama mereka seperti biasanya. Aku tidak akan melihat suasana kerja yang menyenangkan ini. Dan aku akan kembali seperti dulu, saat pertama kali aku menginjakkan kaki di dunia kerja, bertemu teman-teman baru.
Huff, begitu menggalaukan memang kalau kita harus berpisah dengan orang yang telah lama ada di hidup kita. Tapi, mau bagaimana lagi, memang itu yang harus terjadi. Kadang, untuk mendapatkan yang lebih baik, kita harus rela meninggalkan apa yang ada. Dan semoga yang kita tinggalkan itu mendapatkan yang terbaik pula. Amin. 
--------

Hey, friends. We are family, right? Aku harap kalian segera mendapatkan yang lebih baik dari ini. Semoga pertemanan kita tetap abadi. :')


Tidak ada komentar:

Posting Komentar