Mencoba menghargai hidup yang seperti ini adanya. Setidaknya itu yang kulakukan sekarang. Sedikit di rumah, tak seperti dulu. Itulah aku sekarang. Jam kantor yang kurasa sangat terbatas bahkan kurang, membuatku harus menahan muntah akan tuntutan kerja. Setiap hari, mulai Senin sampai Sabtu, waktu terbanyak kugunakan di kantor. Tak boleh heran kalau banyak yang melihatku pulang malam. Jam 9 malam. Itu hampir tiap hari menjadi jadwal kepulanganku. Kecuali hari Sabtu tentunya, di mana aku bisa pulang lebih awal (setidaknya tanpa aku mampir atau kencan bersama teman-temanku).
Lembur? Dengan anggukan pasti akan kujawab: ya! Tiap hari? Tidak, hanya beberapa hari, tapi hampir seminggu itu aku pasti pulang malam. (Wait, gimana nanti nasibku kalau kantor pindah lokasi yang teramat jauh sekali itu? Nangis keringat Makkkk! Dear God, tolong tetap bersamaku ya... ToT)
Banyak yang bilang, “Cukup, jangan memforsir diri.” Hey, lihat, ini jobku kawan. Memang sangat sibuk. Bahkan jam makan siang kurasa masih kurang. Baru sebentar nangkring di warung burjo atau angkringan (perkenalkan, kedua warung itu menjadi “kantor” keduaku), aku harus merangkak lagi ke kantor utamaku. Oh, dear God! Give me more time, please.
Bosan memang memelototi layar monitor. Namun keberadaan teman-teman, juga hiburan ala kadarnya, sedikit mampu mengusir penat. Teman-temanku lucu. Kompak, bahkan untuk lembur pun kami memilih bersama. Senasib, walau tak seduit. Hahaha. Tak apa, tak ada iri di antara kami. Kamilah hiburan untuk kami sendiri.
Ketika Emak mengingatkanku, agar jangan terlalu capek, jangan lembur terus, jangan sering pulang malam, jangan, jangan, dan jangan-jangan yang lain, tak pernah kupatuhi. Aku hanya bisa menjawab, inilah kerjaku Mak. Memang seperti ini. Kau pun lihat sendiri kan , sering aku membawa PR, kukerjakan di malam saat warungmu tutup. Saat pintu kamarku terbuka, aku tengah menahan kantuk di depan PC-ku tersayang, kau lihat itu. Maaf Mak, aku hanya ingin mencontohmu. Kau mungkin tak sadar energimu terkuras habis, hingga menjadi kebiasaan. Selalu bangun paling pagi, tidur paling malam. I love you Emak! Tak ada yang sepertimu, Bapak pun kalah darimu.
Buatku, hidupku kini indah, walau tanpa pacar. Tak seperti yang dulu-dulu. Meski capek sering datang, tapi ini menyenangkan. Aku cinta pekerjaanku. I love my job! Berpacu dengan dateline, akan tersenyum lebar saat satu pekerjaan selesai. Merdeka! Bahkan kata itu sering kuucapkan saat kumulai jenuh memandang layar. Tapi tunggu! Tiba-tiba datang satu tanya dari teman karibku. “Kapan kamu punya pacar? Sudah saatnya kamu nikah….” Woooosssh! Tenang, aku ada pikiran untuk itu. Setidaknya suatu saat nanti, haha (maaf Tuhan, aku hanya bercanda. Jangan Kau anggap serius ya? Tetap kabulkanlah doa hamba dalam hati ini, Tuhan.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar