Ramadan kali ini?
Hmm, tentu tidaklah sama dengan Ramadan-Ramadan sebelumnya. Di tahun 2013 ini,
banyak peristiwa yang memang mengejutkan. Ada sisi senangnya, namun juga ada
sisi sedihnya. Ya, di tahun ini, alhamdulillah aku masih diberi kesempatan
untuk bertemu dengan bulan Ramadan. Masih dengan keluarga besar yang sama. Baik
keluargaku di kampung, maupun keluarga di kantor tempatku bernaung. Oh, agak
sedikit beda sih, yaitu kakak iparku di Tangerang yang sebentar lagi akan
dikaruniai anak kedua. Hemm, tambah satu ponakan lagi, hehe. Alhamdulillah.
Sampai saat ini, aku masih tinggal di sini, di rumah ayahku, dengan bermacam keramaian keponakan-keponakanku dan menu lezat olahan ibuku, nyammii. Tak banyak berubah memang, kecuali kalau aku telah menikah—di mana kenyataannya saat ini aku masih belum menikah. Ah, lupakan dulu, aku tak ingin bercerita masalah itu sekarang. Ya, aku masih bekerja di sini, 3,5 tahun di sini. Sedikit curhat, hampir saja aku meninggalkan tempat kerjaku ini dikarenakan berbagai isu yang membuat nyaliku menciut. Di antaranya tentang rencana—yang sekarang menjadi nyata—kepindahan kantor yang semakin jauh dari tempat tinggalku, dan krisis keuangan yang dialami perusahaan. Kau tahu, sebenarnya aku berhasil diterima di tempat kerja lain, yang lebih dekat dengan rumah. Tapi, karena (menurutku) jam kerjanya sangat over time, akhirnya aku memutuskan untuk menolak tawaran itu. Mungkin aku bisa dibilang bodoh, karena menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dekat dengan rumah, gaji yang ‘sedikit’ lebih besar, tapi jam kerja berlebih… mana yang akan kau pilih? Pindah atau tetap bertahan? Tak ingin munafik atau entah dibilang lebay, aku memang terlalu mencintai teman-temanku di kantor ini, meski di antara mereka sudah ada yang berpindah haluan. Ya, mungkin karena faktor temanlah yang membuatku bertahan di sini.
Ramadan kali ini adalah Ramadan keempatku di kantor ini. Waw, ternyata lama juga aku kerja di sini. :D Tak seperti dulu, Ramadan yang sekarang aku jarang mendapat undangan buka puasa. Biasanya, dulu hampir tiap minggu ada saja ajakan buber. Buber teman SMP-lah, SMA-lah, dan juga kuliah. Itu belum ditambah acara buber kantor, yang dulu rutin diadakan tiap hari Rabu. Namun sekarang, ajakan itu mulai berkurang. Tak ada lagi buber SMP, SMA, maupun kuliah. Ya, mungkin mereka tengah sibuk dengan agenda masing-masing. Maklum, sudah umur segini, ada yang kerja di luar Jogja, ada yang ikut suami, dan kebanyakan mereka sedang disibukkan dengan keluarga kecil mereka. Tak apalah, karena memang hidup tiap orang itu pasti berbeda. Iya, kan?
Seperti aku saat ini. Kalau bisa digambarkan, agaknya grafik dengan garis yang naik-turun cocok untukku. Tingkat ibadahku yang berkurang, manajemen waktu yang kacau, dan social life-ku di kampung yang memudar, membuat planning di otakku jadi berantakan. Entahlah, padahal sudah kepala dua seperti ini, tapi tampaknya aku masih kekanak-kanakan. Masih belum bisa me-manage diri sendiri. Hmm, memang too many mistakes that I can’t tell here. Dan semua itu harus kubenahi. :’(
Hey, sebenarnya apa inti tulisan ini? Maaf, sepertinya ini sedikit—atau banyak?—melenceng dari tema pembicaraan tentang Ramadan. Mohon dimaklumi ya. ^^v
Sampai saat ini, aku masih tinggal di sini, di rumah ayahku, dengan bermacam keramaian keponakan-keponakanku dan menu lezat olahan ibuku, nyammii. Tak banyak berubah memang, kecuali kalau aku telah menikah—di mana kenyataannya saat ini aku masih belum menikah. Ah, lupakan dulu, aku tak ingin bercerita masalah itu sekarang. Ya, aku masih bekerja di sini, 3,5 tahun di sini. Sedikit curhat, hampir saja aku meninggalkan tempat kerjaku ini dikarenakan berbagai isu yang membuat nyaliku menciut. Di antaranya tentang rencana—yang sekarang menjadi nyata—kepindahan kantor yang semakin jauh dari tempat tinggalku, dan krisis keuangan yang dialami perusahaan. Kau tahu, sebenarnya aku berhasil diterima di tempat kerja lain, yang lebih dekat dengan rumah. Tapi, karena (menurutku) jam kerjanya sangat over time, akhirnya aku memutuskan untuk menolak tawaran itu. Mungkin aku bisa dibilang bodoh, karena menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dekat dengan rumah, gaji yang ‘sedikit’ lebih besar, tapi jam kerja berlebih… mana yang akan kau pilih? Pindah atau tetap bertahan? Tak ingin munafik atau entah dibilang lebay, aku memang terlalu mencintai teman-temanku di kantor ini, meski di antara mereka sudah ada yang berpindah haluan. Ya, mungkin karena faktor temanlah yang membuatku bertahan di sini.
Ramadan kali ini adalah Ramadan keempatku di kantor ini. Waw, ternyata lama juga aku kerja di sini. :D Tak seperti dulu, Ramadan yang sekarang aku jarang mendapat undangan buka puasa. Biasanya, dulu hampir tiap minggu ada saja ajakan buber. Buber teman SMP-lah, SMA-lah, dan juga kuliah. Itu belum ditambah acara buber kantor, yang dulu rutin diadakan tiap hari Rabu. Namun sekarang, ajakan itu mulai berkurang. Tak ada lagi buber SMP, SMA, maupun kuliah. Ya, mungkin mereka tengah sibuk dengan agenda masing-masing. Maklum, sudah umur segini, ada yang kerja di luar Jogja, ada yang ikut suami, dan kebanyakan mereka sedang disibukkan dengan keluarga kecil mereka. Tak apalah, karena memang hidup tiap orang itu pasti berbeda. Iya, kan?
Seperti aku saat ini. Kalau bisa digambarkan, agaknya grafik dengan garis yang naik-turun cocok untukku. Tingkat ibadahku yang berkurang, manajemen waktu yang kacau, dan social life-ku di kampung yang memudar, membuat planning di otakku jadi berantakan. Entahlah, padahal sudah kepala dua seperti ini, tapi tampaknya aku masih kekanak-kanakan. Masih belum bisa me-manage diri sendiri. Hmm, memang too many mistakes that I can’t tell here. Dan semua itu harus kubenahi. :’(
Hey, sebenarnya apa inti tulisan ini? Maaf, sepertinya ini sedikit—atau banyak?—melenceng dari tema pembicaraan tentang Ramadan. Mohon dimaklumi ya. ^^v
Sama Nik, tahun ini aku juga nggak banyak bukber, kalo dulu banyak banget. Maklum sudah tua saya ƪ(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)ʃ
BalasHapusSo swit Mpok. I love you too. Eaaa :')
BalasHapus