"Yakinlah bahwa sesuatu yang baik itu bisa datang dari pengalaman yang tidak baik, tapi apabila kamu dapat mengambil pelajaran darinya."

-- Ann Landers--

Sabtu, 18 Januari 2014

Fenomena Sandal Jepit

Bisa dibilang aku ini penyuka sandal jepit. Yeah, itu nyata, riil, manusiawi, dan aku-wi. Soalnya, ke mana pun pergi, aku lebih sering memakai alas kaki jenis ini. Menurutku, memakai sandal jepit itu lebih nyaman ketimbang memakai sepatu, high heel, atau wedges. Hmm, walaupun aku juga pernah kepincut sama itu semua sih, hehe. Tapi, suer, aku lebih suka sandal jepit. Lha wong ke kantor saja aku pakai sandal jepit. Olala.
Jalan-jalan, ke mal, atau ke mana pun pasti alas kakiku tak lepas dari unsur “jepit”. Hanya saja kalau di acara resmi, semisal pernikahan atau berkunjung ke tempat-tempat formal, aku akan mengenakan alas kaki yang sesuai prosedur. Sedikit resmi, gitulah.
Pas zaman sekolah dulu, sudah pastilah ya pakai sepatu. Pas zaman kuliah aku juga lebih sering memakai sepatu. Eh, itu cuma di awal-awal kuliah saja. Pertengahan kuliah sampai akhir, sandal jepit jadi pilihan. Nggak papa kok, dibolehin kok. Cuma kalau pas seminar dan ujian skripsi, “Harap lepas sandal ya!” alias wajib pakai sepatu atau alas kaki yang sejenis sepatu (?).
Pernah aku nge-fan sama yang namanya sepatu sneakers, yang sampai sekarang pun sebenarnya aku masih suka. Tapi, itu tadi, pasti jatuhnya tetep ke sandal jepit, hahaha. Mau dibilang kampungan kek, ketinggalan zaman kek, nggak gaul kek, masa bodo! Lagian zaman sekarang banyak juga kok orang-orang tajir yang jatuh hati sama sandal jepit. Ya iyalah. Sandal jepit itu simpel. Semua orang suka sama yang namanya simpel kan? Masa iya ada orang yang suka sama kerumitan dan keribetan?
Ah, aku tahu. Mungkin saja ini trik dari penjual sandal jepit agar produknya tidak dipandang dengan sebelah mata. Jadi, sekarang ini kan banyak tuh sandal-sandal jepit yang oke punya, bahasa bayinya “unyu-unyu”. Nah, si pencipta sandal jepit pasti juga kepengin dong sandalnya yang dulu cuma bisa di-“konsumsi” masyarakat menengah ke bawah, sekarang dikonsumsi juga sama orang-orang kalangan atas? Yes, karena itulah mereka mulai bereksperimen untuk menciptakan sandal-sandal jepit yang bukan sembarangan sandal jepit. Daaan, jadilah seperti zaman sekarang ini. Uhuuui.



*gambar diambil secara Googling

Tidak ada komentar:

Posting Komentar