Hari ini, 25 November 2013. Yap, selamat Hari Guru
Nasional, Kawan! Ngomong-ngomong soal Hari Guru, @penamerah sudah memutuskan
buat anggota-anggotanya untuk menulis tentang guru. Apa pun itu. Boleh tentang
guru di sekolah, dosen di kampus, ataupun guru-guru di sekolah informal, boleh
juga menulis tentang tokoh/sosok yang dipandang bisa menjadi guru. Pasti kita
punya kenangan-kenangan bersama guru atau orang panutan kita dong? Atau mungkin
ada kejadian yang membekas semasa sekolah atau kuliah dulu? *Dulu? Berasa tua
deh. ~____~
Oke baiklah. Ngomong-ngomong soal guru, ya, aku punya
beberapa cerita. Mulai dari guru-guruku di sekolah, hingga guru kehidupanku,
yang selama ini selalu aku pegang kata-katanya. Yang pertama adalah guruku
waktu TK dulu. Namanya Bu Sukesih, yang akrab dengan panggilan Bu Kesi. Kenapa
aku memilihnya untuk kutulis di sini? Ya, karena beliaulah satu-satunya guru TK
yang kuingat namanya. Hehe. Mungkin karena aku dulu lebih dekat dengannya
daripada dengan Bu Guru-Bu Guru lainnya. Ya. Beliaulah yang selalu memangkuku
dulu. Di kelas, aku selalu duduk di depan, dekat dengan beliau. Di luar kelas,
beliau selalu menemani. Huwaaaa, kira-kira gimana kabar beliau sekarang ya?
Yang kudengar beliau masih setia dengan TK-ku dulu, dan sekarang menjadi salah
satu pemilik yayasan TK-ku itu. Semoga Tuhan selalu menyertainya dan
memberikannya banyak pahala. Amin.
Yang kedua, guru semasa SD. Aku paling suka sama Bu Muji,
guru Agama Islam. Kenapa? Karena beliau baik dan nilaiku selalu bagus. Ada juga
guru Bahasa Indonesia, tapi aku lupa siapa namanya *maafkan aku, Bu. Tapi, aku
selalu mengingat kasih sayangmu, kok*. Di SD ini ada juga guru yang aku nggak
suka. Namanya Pak Joko, guru Matematika. Eh, tapi dulu beliau juga ngajar
Kesenian. Jadi, ceritanya dulu beliau ngasih tugas supaya kami, murid-muridnya,
membuat kerajinan tangan. Dan, waktu itu aku membuat kemoceng dari tali rafia.
Nah, karena waktu pengumpulannya mepet banget, alhasil aku cuma ngumpulin tuh
kemoceng apa adanya. Eh, pas dipegang sama Pak Joko, beliau bilang, “Opo iki?” Dibuanglah begitu saja hasil
karyaku. Malu banget aku waktu itu. Rasanya pengin nangis. Eh, atau karena itu
ya aku jadi nggak suka sama Matematika? Bisa jadi, bisa jadi, bisa jadi!
Yang ketiga, guru semasa SMP. Nah, gue demen nih jaman SMP gue. Bisa dibilang nggak ada satu pun
guru yang bikin eneg, walaupun aku harus sedih karena pisah sekolah sama
mpok-mpok gerombolanku waktu SD. Enem
taun Men gue di SD sama mereka. Maklum dong kalau sampai sedih banget
karena pisah sama temen-temen deket. Di SMP ini nih ada Bu Guru Bahasa
Indonesia, Bu Guru Bahasa Inggris, Bu Guru Biologi, Bu Guru Seni Tari, Pak Guru
Agama Islam, dan Pak Guru Elektronika yang semuanya baik sama murid-muridnya.
Eh, tapi Bu Guru Bahasa Indonesia agak nggak baik kalau tulisan muridnya susah
dibaca. Kalau ada tulisan murid yang susah dipahami, beliau akan nyuruh si
murid nulis sampai bener-bener tulisannya bisa dibaca (bisa sampai satu buku
penuh loh. Kayak belajar nulis gitu deh, ehehehe).
Yang unik lagi tuh Pak Guru Elektronika. Jadi, di
pelajarannya ini, semua murid akan disetrum dulu, katanya sebagai perkenalan
terhadap elektro. Buset dah. Dan yang bikin lucu ngeri lagi, beliau
bilang, “Hati-hati buat yang gendut, karena setrum itu akan menyerap cairan.
Jadi, kalau badannya gendut, cairannya pasti banyak. Oh ya, kalian juga jangan
sampai keringetan. Rileks aja.” Buset lagi daaaah! Alhasil, temanku yang paling
gendut langsung ketakutan, sampai-sampai badannya berkeringat dingin. Dan
ternyata, sepertinya Pak Guru cuma iseng aja. Begitu tahu muka pucat temanku,
beliau langsung bilang kalau disetrum itu cuma kayak digigit semut. Ealah.
Nah, kalau Pak Guru Agama beda lagi. Wajahnya garang mirip
orang Madura, tapi beliau suka melucu dan baik hati. Cara ngajarnya juga bagus.
Beliau ini yang entah kenapa bisa hafal sama namaku, dan sering bertanya, “Nik,
kapan kamu pakai jilbab?”
Aku cuma bisa menjawab, “Belum siap e, Pak.”
“Jangan nunggu siap, buruan pakai.”
Waktu itu aku sama sekali belum kepikiran
untuk mengenakan jilbab. Tapi sekarang, kalau dipikir-pikir, Pak Guru Agama
sangat mulia karena sering mengingatkanku pada kebaikan. Aku aja yang ndablek sampai sekarang *maafkan aku,
Pak. Semoga kebaikanmu dibalas oleh Tuhan yang Mahakuasa, amiin. Maafkan aku
juga, Tuhan :’(.
Yang keempat, guru semasa SMA. Memang benar kata orang,
masa SMA adalah masa-masa terindah. Tapi buatku…, nggak
segitunya kali. Yang bener itu masa SMA adalah masa-masa di mana kita, eh, aku
ding, sering telat *sampai sekarang masih menyandang status ter-telat itu,
ToT*. Yap. Dulu aku sering telat masuk dan sering bolos les. Pernah pas hari
Senin, terpaksa aku harus upacara hanya bertiga saja sama teman sesama telat di
lapangan basket. Gara-garanya, pas berangkat sekolah aku melihat motor temanku
mogok, dan aku berupaya membantunya mencarikan bengkel. Eh, pas motornya nyala,
dia langsung cabut gitu aja. Jadilah aku telat hari itu, sementara dia selamat.
Pernah juga pas hari Jumat, gara-gara risleting tas rusak,
jadinya aku telat setengah jam. Hehe, jam setengah delapan baru sampai sekolah,
Men. Gerbang sudah ditutup, tapi
untungnya muka Pak Satpam masih ceria. Dibukain deh. Tapi, sebagai hukumannya,
aku harus menyirami tanaman di taman kecil sekolah (ini aturan sekolah, bukan
atas perintah Pak Satpam loh). Untungnya lagi, jam pertama waktu itu adalah jam
Ekonominya Pak Tri. Begitu aku mengucap salam, beliau cuma bilang, “Owalah,
ternyata masih ada yang lebih telat. Ya, silakan duduk.” Wajahnya pun wajah
ceria. Bersyukur sekali aku karena hari itu sepertinya semua ceria. ^^v Eh,
tapi emang dasarnya Pak Tri itu baik hati sih, sehingga beliau banyak disukai
murid-murid, dan berhasil menggaet gelar Guru Favorit di sekolah.
Itu Pak Tri, guru Ekonomi I. Ada lagi pelajaran Ekonomi II
yang diampu oleh Bu Nik. Beliau juga lucu, tiap ngajar pasti suka bingung dan
hasilnya malah diskusi sama murid-murid. Tapi, keren kok. Karena dengan begitu
kami malah jadi paham dengan pelajarannya.
Intinya, di masa SMA banyak guru yang hampir semuanya
baik. Ya, dan kenapa aku baru sadar sekarang ya? Hiks. Begitu juga dengan
dosen-dosenku. Semuanya baik. Mulai dari Ketua Jurusan, Dosen Pembimbing
Akademik, Dosen Pembimbing Skripsi, Sekretaris Jurusan, dan semuanya. Mereka
membuatku sadar bahwa aku tak salah mengambil jurusan. Mereka baik. Selalu
menyediakan waktu dan tempat untuk menunjang kelulusanku. Ahh. Aku
merindukan mereka. :’(
Tuhan memang Mahabaik. Tuhan menciptakan banyak orang baik
yang membantuku di bidang apa pun. Mulai dari aku lahir di dunia ini sampai aku
sebesar sekarang. Dan, tentang guru kehidupanku, beliau tak akan terganti. Beliau yang mengajariku untuk hidup apa adanya, jangan
sering mengeluh, dan teruslah bekerja keras selagi masih dikaruniai nyawa.
Begitu besar jasanya padaku, tapi aku justru banyak mengecewakannya.
Ya, beliaulah ibu yang melahirkanku, yang rela meninggalkan cita-citanya demi
menikah dengan ayahku, dan sejak detik itulah beliau siap bekerja keras tiap
waktu. Banyak cerita tentangnya, yang kalau kutulis di sini bisa-bisa malah
banjir air mata. Jadi, cukuplah kusimpan dalam lubuk hati yang terdalam. Satu ujarannya
yang akan selalu kuingat, “Jadi orang itu jangan hanya melihat ke atas, tapi
lihatlah juga ke bawah. Jangan selalu berharap, yang pasti teruslah berusaha.” Dan,
aku hanya bisa mendoakan semoga Tuhan senantiasa memberi beliau umur yang
panjang, kesehatan yang baik, dan rezeki yang lancar. Amin ya Robbal Alamin.
Yap. Menurutku, mereka yang kuceritakan ini memang patut mendapat gelar
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Selain tenaga dan ilmu yang mereka berikan, mereka
juga telah mengantar dan mengisi jiwa murid-muridnya hingga menjadi manusia
yang benar, manusia yang berani menghadapi kehidupan. Karena, bagaimanapun juga
kehidupan itu tak selamanya manis.
Sekian.
ceritamu kayak gado-gado mbak,.. ada yang lucu, ada yang bikin kamu terlihat lugu dan jadinya kasihan, dan ada pula yang bikin mau mewek.
BalasHapusyuhhuuu, ak juga bingung tuh. niatny nulis kenangan pas jaman skul dulu, e kok endinge malah gitu :|
BalasHapushiyaaa kamu telatan dari jaman sekolahan ye mpok :p
BalasHapusiya mpoook, hahaha :))
BalasHapus