"Yakinlah bahwa sesuatu yang baik itu bisa datang dari pengalaman yang tidak baik, tapi apabila kamu dapat mengambil pelajaran darinya."

-- Ann Landers--

Rabu, 15 Januari 2014

and then, they... leave

Tiga tahun bersama, dan apakah ini saatnya buatku untuk benar-benar move on?
Yup, dan akhirnya terjadi. Ada perjumpaan pasti ada perpisahan. Dan ini perpisahan yang sebenarnya menyenangkan karena mereka telah berhasil “lulus” dan mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Aku bahagia. Sangat bahagia. Hanya saja, aku masih belum begitu rela jika mereka tinggalkan karena aku telah menganggap mereka sebagai saudara dan juga teman seperjuangan. Ah, seharusnya aku tidak boleh begitu, bukan? Tapi, selalu saja begitu, aku tipikal orang yang gampang mewek kalau harus berpisah dengan orang, barang, atau hal-hal kesayangan. Apalagi jika kebersamaanku dengan mereka itu terbilang sudah cukup lama. Maka, aku akan sangat sedih jika kami yang notabene setiap hari bertemu kini harus berpisah. Itulah yang membuatku sedih.
Dulu, bisa dikatakan akulah yang memilih mereka untuk menemani perjuanganku di kantor ini, saling membantu dan belajar bersama, sehingga seiring waktu berjalan kami pun semakin akrab, bahkan sampai muncul panggilan sayang untuk kami, yakni “mpok”. Panggilan itu membuat kami lebih akrab karena serasa kami ini hidup bertetangga dengan rukun, sering berkumpul untuk membicarakan hal-hal apa saja (silakan kalau mau menyebutnya “bergosip”). Kami melestarikan panggilan ini, bahkan anak baru pun--khusus cewek--kalau mulai akrab dengan kami akan kami panggil demikian. Ya, kami terbuka menerima siapa pun yang ingin hidup bertetangga dengan kami. Mungkin itulah yang menyebabkan terjadinya kesedihan yang mendalam kalau di antara kami ada yang harus berkemas. Tapi…. Ah, bukankah kita memang tidak bisa terus-terusan berada dalam satu tempat yang sama? Bukankah kita harus berani melangkah meninggalkan zona nyaman? Karena, kadang kala untuk mendapatkan yang lebih baik, kita memang harus meninggalkan zona nyaman. Dan menurutku, apa pun kendalanya, kita tidak bisa terus-terusan hidup dengan nyaman.
Ya, kenyamanan itu karena di kantor ini kami sudah seperti keluarga sendiri. Dan kantor ini sudah seperti rumah kedua bagi kami. Tapi, di sisi lain kenyamanan itu ada hal yang menimbulkan perang batin karena bagaimanapun juga kami harus bisa mempertanggungjawabkan kehidupan kami masing-masing dengan mendapatkan honor dan penghargaan yang layak. Di lain pihak, kami enggan untuk berpisah. Itulah…. Itulah yang memunculkan dilema. Honor kami terbatas. Job yang kami terima pun mulai random. Belum lagi keputusan bos yang akhir-akhir ini bikin geregetan. Tak salah kalau di antara kami mulai ada yang berpikiran untuk mengubah keadaan, tidak meneruskan kondisi yang begini-begini saja. Karena bagaimanapun juga kita mempunyai hak untuk menyejahterakan hidup kita masing-masing. Apalagi di usia yang sudah cukup “tua” ini, kami harus mulai berani dan serius untuk mempersiapkan masa depan, tidak stagnan pada kondisi yang menggalaukan ini. Heuheuheu.
Untuk kawan-kawanku, duo mpok tercinta, lanjutkan langkah kalian! Dan doakan aku supaya bisa menyusul kalian secepatnya. Untuk para mpok tersayang yang masih ada di sini, mari kita move on!
-------------------------------------------
#tulisan ini ditulis sebagai catatan bahwa kepergian Mpok Tanti dan Mpok Fato dari kantor ini merupakan motivasi buatku untuk bisa move on. Ya Tuhan, semoga aku mendapatkannya. Amin ya Robbal alamin.  

4 komentar:

  1. Mpoookkk... :'/
    Terima kasih telah memilihku untuk belajar bersamamu, dan bersedia menjadi sahabat sepergalauanku selama hampir tiga tahun. Semoga kesuksesan selalu menyertai kita semua. Dan semoga silaturahmi ini akan senantiasa terjalin dengan indah. Aamiin yaa Robbal 'alamiin. (,--)9

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama mpok, amin ya Robbal alamin :')

      Hapus
  2. amin.....
    jadi speechless.. :'(

    Semoga kita sukses ya Mpok.. cemungud Mpok2, kalian bisa \^^/

    -fato-

    BalasHapus