Tiga tahun bersama,
dan apakah ini saatnya buatku untuk benar-benar move on?
Yup, dan akhirnya
terjadi. Ada perjumpaan pasti ada perpisahan. Dan ini perpisahan yang
sebenarnya menyenangkan karena mereka telah berhasil “lulus” dan mendapatkan
kehidupan yang lebih layak. Aku bahagia. Sangat bahagia. Hanya saja, aku masih
belum begitu rela jika mereka tinggalkan karena aku telah menganggap mereka
sebagai saudara dan juga teman seperjuangan. Ah, seharusnya aku tidak boleh
begitu, bukan? Tapi, selalu saja begitu, aku tipikal orang yang gampang mewek
kalau harus berpisah dengan orang, barang, atau hal-hal kesayangan. Apalagi
jika kebersamaanku dengan mereka itu terbilang sudah cukup lama. Maka, aku akan
sangat sedih jika kami yang notabene setiap hari bertemu kini harus berpisah.
Itulah yang membuatku sedih.
Dulu, bisa dikatakan
akulah yang memilih mereka untuk menemani perjuanganku di kantor ini, saling
membantu dan belajar bersama, sehingga seiring waktu berjalan kami pun semakin
akrab, bahkan sampai muncul panggilan sayang untuk kami, yakni “mpok”.
Panggilan itu membuat kami lebih akrab karena serasa kami ini hidup bertetangga
dengan rukun, sering berkumpul untuk membicarakan hal-hal apa saja (silakan
kalau mau menyebutnya “bergosip”). Kami melestarikan panggilan ini, bahkan anak
baru pun--khusus cewek--kalau mulai akrab dengan kami akan kami panggil demikian. Ya, kami
terbuka menerima siapa pun yang ingin hidup bertetangga dengan kami. Mungkin
itulah yang menyebabkan terjadinya kesedihan yang mendalam kalau di antara kami
ada yang harus berkemas. Tapi…. Ah, bukankah kita memang tidak bisa
terus-terusan berada dalam satu tempat yang sama? Bukankah kita harus berani
melangkah meninggalkan zona nyaman? Karena, kadang kala untuk mendapatkan yang
lebih baik, kita memang harus meninggalkan zona nyaman. Dan menurutku, apa pun
kendalanya, kita tidak bisa terus-terusan hidup dengan nyaman.
Ya, kenyamanan itu
karena di kantor ini kami sudah seperti keluarga sendiri. Dan kantor ini sudah
seperti rumah kedua bagi kami. Tapi, di sisi lain kenyamanan itu ada hal yang menimbulkan
perang batin karena bagaimanapun juga kami harus bisa mempertanggungjawabkan
kehidupan kami masing-masing dengan mendapatkan honor dan penghargaan yang
layak. Di lain pihak, kami enggan untuk berpisah. Itulah…. Itulah yang
memunculkan dilema. Honor kami terbatas. Job yang kami terima pun mulai random.
Belum lagi keputusan bos yang akhir-akhir ini bikin geregetan. Tak salah kalau di
antara kami mulai ada yang berpikiran untuk mengubah keadaan, tidak meneruskan kondisi
yang begini-begini saja. Karena bagaimanapun juga kita mempunyai hak untuk
menyejahterakan hidup kita masing-masing. Apalagi di usia yang sudah cukup
“tua” ini, kami harus mulai berani dan serius untuk mempersiapkan masa depan,
tidak stagnan pada kondisi yang menggalaukan ini. Heuheuheu.
Untuk kawan-kawanku,
duo mpok tercinta, lanjutkan langkah kalian! Dan doakan aku supaya bisa
menyusul kalian secepatnya. Untuk para mpok tersayang yang masih ada di sini,
mari kita move on!
-------------------------------------------
#tulisan ini ditulis sebagai catatan bahwa
kepergian Mpok Tanti dan Mpok Fato dari kantor ini merupakan motivasi buatku
untuk bisa move on. Ya Tuhan, semoga
aku mendapatkannya. Amin ya Robbal alamin.
Mpoookkk... :'/
BalasHapusTerima kasih telah memilihku untuk belajar bersamamu, dan bersedia menjadi sahabat sepergalauanku selama hampir tiga tahun. Semoga kesuksesan selalu menyertai kita semua. Dan semoga silaturahmi ini akan senantiasa terjalin dengan indah. Aamiin yaa Robbal 'alamiin. (,--)9
sama-sama mpok, amin ya Robbal alamin :')
Hapusamin.....
BalasHapusjadi speechless.. :'(
Semoga kita sukses ya Mpok.. cemungud Mpok2, kalian bisa \^^/
-fato-
amiin mpok, amiiin. :')
Hapus