Hujan deras yang baru saja turun telah meninggalkan
genangan-genangan air yang mulai menyusut, dan tetes-tetes embun pun berjatuhan dari daun-daun
pohon di halaman kampus. Untung saja hujan reda tepat saat jam kuliah berakhir
sehingga aku pun bisa langsung pergi ke tempat kerjaku. Aku sedang berusaha mengeluarkan motorku
dari parkiran. Tiba-tiba kudengar suara yang akrab di telingaku. Si pemilik
suara itu berlari menuju ke arahku.
“Moz, kamu mau kerja ya? Aku ikut dong ke tempat kerjamu!” Cowok
yang bernama Raffi ini memang temanku sedari kecil. Walaupun dia sudah pindah rumah, tapi
kami masih saling keep contact. Apalagi sekarang dia satu kampus sama
aku. So, kami sering bertemu.
“Emang mau apa kamu di tempat kerjaku?
Tumben mau ikut? Apa kamu mau melamar kerja? Sorry, Raf, lagi nggak ada lowongan.” Aku asal saja menjawab omongannya.
“Ya, nggaklah. Emang aku punya tampang
jadi penjual kue, apa? Aku cuma pengin ketemu langsung sama Terry.”
Aku tersentak kaget dan berujar, “Hah…,
kok kamu kenal Terry? Di mana kenalnya? Terry nggak pernah cerita soal kamu.”
“Aku kenal di chatting-an. Makanya aku minta tolong sama kamu, nanti kenalin aku
sama dia. Please….”
Dasar buaya! batinku. Sekali kenal
cewek, langsung sumringah. Tapi, sialnya, kenapa cewek yang dikenalnya itu
selalu cantik ya? Kenapa nggak cewek jelek aja yang dia dapat?
“Please-please!
Nanti jangan-jangan kamu malah mengganggu kerjaku. Nanti saja kalau tokonya
sudah tutup, kamu mau ketemuan, kek, ngobrol, kek, atau ngapain aja terserah. Asal jangan pas jam kerja!” protesku.
Tapi,
Raffi tetap memaksa. “Nggak bakalan deh kalau aku ganggu kamu. Malahan aku akan
bantuin kamu, asal kamu mau ngenalin aku sama Terry.”
“Pokoknya nggak mau! Kenalan aja
sendiri!” Aku buru-buru naik ke motor, lalu menyalakan mesinnya.
“Moz…, please….” Ya ampun, wajah itu lagi. Aku paling nggak tega melihat wajah
melasnya Raffi. Entah kenapa. Ah, dasar Raffi.
Dengan malas akhirnya aku menyanggupi
permintaannya. “Uh, ya udah! Tapi buruan, entar keburu hujan lagi!”
“Yes!
Thank you Moza! Kamu emang my best
friend!” Raffi terlihat senang sekali, sampai-sampai dia langsung naik ke
motorku begitu saja. “Let’s gooo!”
ujarnya.
“Dasar buaya!”
“Yah, jangan ngomong gitu dong, Moz. Aku
ini manusia, bukan buaya!”
“Yee, buat kamu mah sama aja, tauuu!”
***
“Ter, ada yang mau kenalan sama kamu
nih.” Aku langsung saja bilang ke Terry dan berbisik pada Raffi, “Dah, kamu
tinggal ngobrol aja sana. Aku mau kerja…,” belum selesai aku ngomong, Raffi
sudah ngacir mendekati Terry. Dasar ya,
yang namanya buaya kalau udah ketemu mangsa, langsung aja main sergap! Huh!
“Hai, aku Raffi. Masih ingat nggak? Kita
pernah kenalan di chatting-an.” Raffi
mengulurkan tangannya.
“Raffi? Oh…, yang pic-nya culun itu ya?” Terry menerima uluran tangan Raffi dengan
tersenyum. Aku sedikit tertawa saat Terry bilang fotonya Raffi culun.
“Ah, itu kan fotoku zaman dulu. Yang
sekarang, nggak culun kan?”
“Ah, bisa aja. Iya sih, kamu emang udah
nggak culun.”
Kelihatannya mereka sangat menikmati
obrolan. Aku terus memerhatikan mereka. Nggak tahu kenapa tiba-tiba aku jadi
benci sama Terry. Dia memang cantik. Ah,
kecantikannya itu kan selalu digunakan untuk cari perhatian, pikirku. Atau
mungkin aku iri dengan kecantikannya itu?
Aku nggak tahu apa yang mereka obrolkan
karena aku disibukkan dengan para pembeli yang memesan dan membayar. Sedangkan
Terry, dia kebagian tugas untuk melayani pembeli yang makan di tempat,
termasuk…, Raffi! Sial! makiku dalam
hati. Katanya mau membantu, tapi coba
lihat apa yang dilakukan!
***
Sejak saat itu, aku jadi sering melihat
Raffi di toko ketimbang di kampus. Dia jadi semakin lengket sama Terry.
Tepatnya mereka sudah resmi pacaran. Suatu kali, ketika aku bertemu Raffi di
toko, aku mencoba menagih janjinya.
“Raf, mana janji kamu? Katanya mau
bantuin kalau datang ke sini!” Aku memang agak marah karena setiap kali Raffi
datang, dia cuma duduk, minum, ngobrol sama Terry, terus pulang bareng Terry.
Sepertinya dia datang hanya untuk menemani Terry.
“Emangnya aku bisa ngapain? Kerjaan kan
lagi nggak banyak.”
Sialan! batinku.
“Eh, dulu siapa yang bilang kalau udah
berhasil kenal sama Terry, dia bakal bantu kerja?” aku jadi benar-benar marah.
Dan ternyata Raffi tersinggung.
“Iya, tapi lihat-lihat sikon dulu dong.
Sekarang kan lagi sepi. Lagian dulu aku cuma bilang doang kan, nggak janji? Kok
kamu jadi marah-marah gitu?!”
Aku berusaha menutupi kekesalanku.
“Siapa yang marah? Kata-kata kamu dulu itu kan sama dengan janji, dan aku cuma
nagih janji kamu itu.”
“Itu kan pikirmu, sedangkan aku nggak
pernah menganggap itu janji!” Raffi berdiri dari duduknya. Dia segera menuju
meja kasir tempat Terry bertugas.
Entah apa yang mereka bicarakan, tapi
Terry kemudian minta izin keluar sebentar, katanya ada keperluan penting. Mau
nggak mau aku harus kerja dobel. Dalam hati aku cuma bisa menggerutu, sialan, kurang ajar, nggak tahu balas budi!
***
Sudah lama aku nggak bertemu Raffi, baik
di kampus maupun di toko. Kurang lebih dua minggu ini. Aku kira dia marah sama
aku. Tapi, kata Terry, Raffi sedang ke luar kota. Katanya dia pergi ke Bandung,
membantu usaha ayahnya yang ada di sana. Aku nggak pernah tahu kalau keluarga
Raffi punya usaha di Bandung. Mungkin Raffi memang marah sama aku. Biasanya
kalau mau pergi ke suatu tempat, dia pasti bilang sama aku. Ya sudahlah. Lagi
pula aku nggak mau dibuat capek lagi. Tapi…, sepertinya ada lembaran yang
hilang dari hidupku. Ke mana Raffi? Aku ingin bertemu dengannya.
***
“Moza, tolong kamu urus administrasinya
ya, biar Ibu pulang bareng Ayah sekarang. Nanti kamu pulang naik taksi saja,
nggak pa-pa kan, Nak?”
“Iya, nggak pa-pa, Yah. Ayah duluan
saja, kasihan Ibu nanti kelamaan nunggu.”
Tiga hari yang lalu Ibu demam tinggi
hingga harus diopname. Kata dokter, Ibu terkena tifus. Kecapekan adalah
sebabnya. Mulai sekarang, Ibu harus sering beristirahat.
Setelah mengurus administrasi, aku
segera keluar dari rumah sakit. Betapa terkejutnya aku ketika melihat seseorang
yang kukenal didorong keluar dari ambulans. Ya, dia adalah Raffi. Saat lewat di
sampingku, aku semakin bisa melihatnya dengan jelas. Wajahnya pucat dan
kondisinya lemah sekali. Tapi, aku sempat mendengar dia berbisik lirih ketika
melihatku. “Moza…,” ucapnya tersenyum lemah.
“Raf…, Raffi, kamu kenapa?” Aku sangat
cemas melihat keadaannya. Apa Raffi kecelakaan saat mau pulang ke Jakarta?
Tapi, dari kondisinya itu, Raffi nggak mungkin kecelakaan. Dia sakit. Ya, Raffi
sakit parah.
“Maafkan aku, Moz…,” Raffi berujar. Dia
terus didorong menuju ruang UGD.
Aku terdiam. Raffi, kamu kenapa? tanyaku dalam hati. Aku mengurungkan niatku
untuk pulang. Aku memutuskan untuk menunggu Raffi bersama keluarganya.
“Raffi kenapa, Om?” tanyaku pada ayah
Raffi yang terlihat masih bisa menenangkan diri.
“Leukemia, Nak Moza…,” jawab ayah Raffi
lemas. Aku benar-benar terpukul, sampai nggak bisa berkata apa-apa lagi.
Dalam keheningan dan isak tangis kami,
dokter keluar dari ruang UGD diikuti Raffi. Dokter itu berbicara pada orang tua
Raffi. Aku nggak memerhatikan apa yang mereka bicarakan. Yang kuperhatikan
adalah Raffi yang terus saja berjalan, dan ketika melewatiku, dia tersenyum.
Belum pernah aku melihatnya tersenyum secerah itu. Kuikuti dia, tapi dia
menghilang begitu saja, entah ke mana. Aku pun kembali ke tempat semula, di
mana keluarga Raffi satu per satu masuk ke ruang UGD. Kulihat ibu Raffi
menangis hebat di samping sesosok tubuh yang terbaring kaku di brankar. Ya
Tuhan….
***
Hari ini Raffi dimakamkan. Aku masih
sangat terpukul karena bagaimanapun juga kini Raffi telah pergi untuk selamanya,
tanpa sempat aku minta maaf padanya, tanpa sempat kukatakan kalau aku menyimpan
rasa untuknya. “Tuhan, semoga Engkau selalu menjaganya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar