Aku masih menatap meja itu. Meja di sudut ruangan yang persis menghadap
sekumpulan bunga mawar di luar sana. Perlahan aku mendekat dan mulai duduk di
salah satu kursinya. Udara sejuk serasa menyambutku. Masih seperti dua tahun
lalu, hingga kini pun aku masih mengenal dengan baik segarnya udara ini.
Kali ini, aku datang tidak dengan laptopku. Ya, itu karena aku tak
berpikiran akan ke sini. Setiba di stasiun, aku langsung menuju rumahku—lebih tepatnya
rumah almarhum Kakek. Aku ke garden café
ini pun karena tak sengaja melewatinya. Tuhan Mahabaik, karena tetap
mengingatkanku bahwa aku pernah punya kenangan di tempat ini. Kenangan bersama
lelaki yang tak kutahu namanya, yang hanya beberapa kali saja kutemui. Dan, apa
kabarnya dia? Tanpa sadar aku telah mengembangkan senyum, seakan aku tersenyum pada
bunga mawar di depan sana.
“Hot chocolate?” tiba-tiba suara
seorang laki-laki membuyarkan lamunanku. Aku menoleh, melihatnya menawarkan
secangkir cokelat panas padaku.
“Ah… ya, terima kasih,” hanya itu yang mampu keluar dari bibirku. Perlahan,
dia mengangsurkan satu cangkir yang dia bawa dan meletakkannya di depanku.
“Boleh aku duduk di sini?” ucapnya tersenyum.
“Ah… ya, silakan,” lagi-lagi aku hanya bisa menjawab seperti itu. Entahlah,
sepertinya aku kikuk dengannya. Laki-laki berperawakan tinggi dan… hey, apakah
dia sengaja membawakanku secangkir cokelat panas? Apa dia mengenalku? Pikiranku
pun penuh tanya, hingga tak sengaja aku menatapnya terlalu lama.
“Akhirnya kau kembali,” ucapnya masih dengan senyum. Aku tersadar, mencoba
menutupi kegugupanku dengan meneguk cokelat di depanku. Manis. Semanis
senyumnya. Ah.
“Apa kita pernah bertemu?” tanyaku ragu.
“Pernah.” Sungguh, aku penasaran siapa dia sebenarnya.
“Di mana?” lanjutku.
“Di sini,” jawabnya yakin.
Aku bingung. Tak tahu lagi apa yang harus kukatakan. Tak terlihat sedikit
pun keraguan di setiap ucapannya. Tuhan, siapa dia? Hatiku terus bertanya.
“Sudah dua tahun, dan mawar itu tetap tumbuh dengan baik. Sepertinya
pemilik kafe ini selalu rajin merawatnya,” ucapnya sambil memandangi serumpunan
bunga mawar di luar sana. “Selama dua tahun itu pula kau menghilang. Apa
kabarmu?” kini dia menatapku, serius.
“Ah… aku… ya, aku baik,” balasku kaget bercampur gugup.
“Tak perlu heran. Aku tahu kau mungkin melupakanku. Tapi kau tidak mungkin melupakan mawar, bukan?”
lanjutnya.
“Maksudmu?” Sekejap saja bayangan laki-laki dengan buku filsafatnya dua
tahun yang lalu muncul di hadapanku.
“Aku Satria.”
Deg. Dia mengulurkan tangan kanannya, dan aku tak kuasa untuk tak
menjabatnya. Kubalas senyumnya, lalu kusebut namaku, “Bi.”
Ya, rasaku bercampur jadi satu,
antara bingung, gugup, senang, dan… sangat bahagia.

Welah, tetep misterius tuh cowok. Masih seperti dua tahun yang lalu... eh, maksudnya seperti pada FF sebelumnya. :D
BalasHapusMeskipun sekarang dia sudan mulai membuka diri. Hwehehe