"Yakinlah bahwa sesuatu yang baik itu bisa datang dari pengalaman yang tidak baik, tapi apabila kamu dapat mengambil pelajaran darinya."

-- Ann Landers--

Rabu, 09 Oktober 2013

Hal Terindah


Pertemuanku kembali dengan Bi telah membuatku lebih percaya pada satu keindahan tersendiri soal ruang dan waktu. Ya, setelah dua tahun berlalu, kami dipertemukan kembali di sini, di garden cafe ini. Kami juga masih menyukai satu cerita yang sama tentang mawar. Bagiku, mempunyai sekuntum mawar adalah hal yang menyenangkan. Menghirup wanginya, merasakan kesegarannya. Dan kini, bersama Bi, aku merasakan keindahan tak hanya pada sekuntum mawar saja. Kami sepakat—bahkan semua orang mengakuinya—bahwa sekumpulan mawar yang dirangkai menjadi satu akan lebih indah, lebih wangi, dan lebih segar. Seperti saat ini, saat di mana aku menemukan Bi sebagai pelengkap kebahagiaanku.
Bi adalah sosok terindah bagiku. Saat dekat dengannya, saat itulah aku menemukan hal terindah dalam hidupku. Ya, ia telah mengalahkan sejuta keindahan bunga mawar yang dulu kuyakini tiada tandingannya. Namun kini, keyakinanku itu berubah total, hingga setangkai atau berapa pun mawar yang ada, takkan mampu menggantikan Bi.
”Akan kuhadiahkan berapa pun mawar untukmu, Bi. Akan kulukiskan mawar-mawar itu di setiap ruangmu. Aku berjanji akan selalu ada untukmu, menemanimu setiap waktu. Karena kaulah sosok terindah dalam hidupku.”
Sampai saat ini rasaku bertahan di sini
Rasa yang tak akan hilang oleh waktu
*
Kau tidak di sini, aku pun tiada di hatimu
Jiwaku ikut menghilang bersamamu
*
Tak terkira di sampingmu
Adalah hal terindah yang pernah kuinginkan
Tak terkira di pelukmu
Adalah hal terindah yang pernah kurasakan
*
Melukiskan segenap keindahan dirimu
Hanya kau yang aku mau, kamu... kamu
*
Tak terkira milikimu
Adalah hal terindah yang pernah kudambakan
Tak terkira dekapanmu
Adalah hal terindah yang pernah kudapatkan
Takkan rela melepasmu
Walau di hadapanmu ku kan terus menangis bahagia
Hal Terindah by Seventeen

***
”Mawarmu, Sayang.” Kuucapkan kalimat itu setelah kukecup keningnya. Entah sudah berapa tangkai mawar yang kuberikan padanya.
Bi tersenyum, lantas berucap, ”Ini sekuntum mawar yang keseratus tujuh belas, Cinta. Terima kasih.” Bi memelukku. Aku tak akan melepasmu, Bi. Sampai kapan pun.  
-------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar